Dek kiran yang lucu

Sebenarnya anak kecil itu kembar. Namanya Kiran, usianya 2tahun. Kembarannya namanya Karin. Yang sering ku ajak pergi itu namanya kiran. Karena kakaknya tidak mau ikut dengan siapa siapa kecuali ibu dan bapaknya.

Yang bersama kiran itu namanya shita, kakak sepupunya. Beberapa hari si kembar (biasa aku sebut namanya) tidak main kerumah. Aku berharap dia datang karena aku sangat kangen dengan bocah kecil itu. Karena jarak rumah kami jauh dan tidak setiap hari kita bertemu.

Setelah beberapa jam, akhirnya anak yang aku rindukanpun datang meskipun hanya satu. Itupun yang datang hanya dengan bapaknya. Yang datang waktu itu kiran.Karena kakaknya di rumah dengan ibunya. Biasanya, kalo kakaknya mau tidur, adiknya selalu mengganggu sehingga salah satu dari mereka harus di pisahkan. Agar bisa tidur dengan tenang.

Setelah beberapa menit, ku ajak kiran menjemput kakak sepupunya yang waktu itu sedang sekolah. Pikirku, karena anak perempuanku senang jika ada kembar datang kerumah.

Sesampainya di sekolah, kami masih harus menunggu jam pelajaran usai. Ku amati bocah kecil itu, ku ajak ngobrol selayaknya anak yang sudah lancar berbicara. Karena badannya yang gemuk, pipinya yang tembem membuat aku pengen mencubitnya. Memang anaknya lucu dan gemesin. Tak lama kemudian, anakku keluar dari pintu kelasnya. Dan apa yang aku katakan benar, betapa senangnya  aku mengajak kiran. Di peluknya, di sayangnya bocah kecil itu.

Dan saat itu pula kami pergi meninggalkan sekolah itu. Kami tidak langsung pulang ke rumah, melainkan jalan~jalan dulu. Kerena lama keinginan kami ingin mengajak jalan~jalan kiran.

Kami pergi di suatu tempat perbelanjaan. Anakku mengambil trolly dan kumasukkan kiran kedalamnya. Kemudian di dorong kesana kemari, mengambil barang kebutuhan sehari hari. Ada makanan, minuman, susu, dan lain sebagainya.

Baca Juga  Pentingnya Kejujuran dan Keterbukaan Terkait Masalah Keuangan Kepada Orang Lain

Setelah barang~barang kebutuhan kami beli, kami bergegas menuju kasir. Di depan kasir barang ~barang itu di cek dan di masukkan ke dalam kantong, tapi ada barang yang tidak boleh di minta oleh kiran, yaitu minyak goreng. Di minta tidak boleh malah marah. Ku bujuk agar barang yang di pegangnya boleh di minta. Dan akhirnya di berikan.

Setelah aku melakukan pembayaran, dan kiran masih berada di trolly, anak kecil itu tidak mau turun. Banyak orang tertawa melihat gaya bocah kecil itu. Yang masih lugu dan polosnya, yang tidak punya rasa malu karena masih berada di dalam trolly.

Lagi~lagi kami harus membujuk agar dek kiran mau turun. Tangan yang aku sodorkan di tolaknya, begitu juga dengan tangan mb shita. Beberapa menit  kemudian akhirnya dek kiran mau turun dari trolly.

Dan selepas itupun kami pulang. Sesampainya di rumah, kuceritakan kejadian itu dengan pakde dan bapaknya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *